Menu Utama
- Advertisement - Space Iklan Top Banner

Perisai Keluarga Kuat: Strategi Efektif Melindungi Generasi Muda Barito Utara dari Ancaman Radikalisme

admin | Februari 20, 2026
thumbnail

Di tengah arus globalisasi dan laju perkembangan teknologi informasi yang pesat, ancaman paham radikalisme menjadi isu krusial yang membutuhkan perhatian serius. Anak-anak dan remaja, sebagai kelompok yang paling rentan, berpotensi besar terpapar ideologi ekstrem melalui berbagai platform digital. Oleh karena itu, pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai benteng pertahanan utama tidak bisa diremehkan. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Barito Utara, Hj. Maya Savitri Shalahuddin, menekankan urgensi ini dalam kegiatan Sosialisasi Paham Radikalisme terhadap Anak dan Remaja yang berlangsung di Gedung Balai Antang, Muara Teweh, pada Kamis (19/2/2026). Acara strategis ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Ketua GOW, Ketua Persit Chandra Kirana, Ketua Bhayangkari, Ketua Dharma Wanita, Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini, Ketua Dharmayukti Karini Barito Utara, serta Kepala Dinas Pendidikan, Dinas Sosial PMD, Dinas Dalduk KB P3A, Camat Teweh Tengah, para ketua organisasi kewanitaan dan keagamaan se-Kabupaten Barito Utara, hingga pengurus TP PKK se-kecamatan, menandakan komitmen kolektif dalam menjaga masa depan generasi muda.

Dalam sambutannya, Maya Savitri Shalahuddin menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya sekadar ideologi, melainkan cara pandang yang sempit, intoleran, dan seringkali melegalkan kekerasan. Ia mengingatkan bahwa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, keberagaman adalah jati diri Indonesia. Oleh karena itu, segala bentuk paham yang mengancam persatuan dan menanamkan kebencian harus ditolak bersama-sama. "Kita tidak boleh membiarkan generasi muda terpapar ide-ide yang menyesatkan dan merusak karakter," tegasnya. Sebaliknya, generasi muda harus dibekali dengan wawasan kebangsaan yang kuat, pemahaman agama yang moderat, serta kemampuan berpikir kritis agar mereka tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, khususnya dari lingkungan digital yang serba cepat.

Sinergi antara keluarga sebagai pondasi utama, sekolah sebagai pusat pendidikan formal, dan lingkungan masyarakat sebagai ekosistem sosial, merupakan kunci dalam membentuk karakter anak. Orang tua memegang peran sebagai garda terdepan dalam pengawasan dan pembinaan, memastikan anak tumbuh dengan nilai-nilai luhur. Sementara itu, sekolah dan masyarakat dituntut untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, toleran, dan harmonis, tempat setiap individu merasa aman dan dihargai. Upaya kolektif ini akan membentuk sebuah benteng kokoh yang melindungi anak-anak dari infiltrasi paham-paham berbahaya.

Materi sosialisasi yang sangat relevan disampaikan oleh perwakilan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, Iptu Ganjar Satriono, S.Sos, Panit Satgas Wilayah Kalteng. Beliau memaparkan secara mendalam mengenai bahaya radikalisme, pola penyebarannya, serta langkah-langkah pencegahan konkret yang dapat diterapkan oleh keluarga dan komunitas. Iptu Ganjar menjelaskan bahwa kelompok radikal kini secara masif memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk menyebarkan paham mereka. Dengan pendekatan yang persuasif, mereka menyasar generasi muda, memanfaatkan isu-isu sosial, keagamaan, atau ketidakpuasan tertentu untuk menarik simpati dan mempengaruhi pola pikir. "Mereka menyebarkan konten yang dikemas secara menarik, namun sesungguhnya mengandung ajaran intoleransi dan kebencian yang memecah belah," ungkapnya.

Penting bagi keluarga untuk peka terhadap tanda-tanda awal paparan radikalisme, seperti perubahan sikap yang ekstrem, menarik diri dari lingkungan sosial, mudah mengkafirkan atau menyalahkan pihak lain, serta menunjukkan sikap intoleran terhadap perbedaan. Iptu Ganjar menekankan bahwa "Keluarga harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Bangun komunikasi yang terbuka, tanamkan nilai-nilai toleransi, serta awasi aktivitas digital mereka secara bijak. Pencegahan harus dimulai dari rumah." Melalui sosialisasi ini, diharapkan pemahaman peserta akan bahaya radikalisme meningkat drastis. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama untuk menjaga persatuan, memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, serta menciptakan generasi muda Barito Utara yang religius, nasionalis, toleran, dan berakhlak mulia, siap menjadi pilar masa depan bangsa.

Bagikan:
Komentar (0)
- Advertisement -
Iklan Banner